Peran Seni dan Sastra dalam Islam
Oleh: Hanif Hilmi Ali
Salah satu cara untuk mengekspresikan imajinasi dan menumbuhkan kreativitas manusia yaitu seni. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata seni memiliki arti “keahlian” dan “kesanggupan”. keahlian seseorang yang dapat membuat sesuatu memiliki nilai. Sedangkan menurut J.J Hogman seni mempunyai tiga poin yaitu ideas, activities, dan artifact. Dari pengertian di atas bisa kita simpulkan bahwa seni adalah hasil pemikiran manusia yang mempunyai nilai, norma, dan gagasan.
Seni bermacam-macam bentuknya, antara lain seni rupa, seni pertunjukan, seni lukis, dan seni sastra. Kebanyakan manusia menganggap bahwa ilmu sastra adalah ilmu tersendiri dan bukan termasuk dari seni. Namun anggapan itu kurang tepat karena sastra termasuk bagian dari seni. Permasalahannya, mengapa seni dan sastra selalu dipisahkan, padahal sastra adalah bagian dari seni? Karena seni terlalu global untuk dipelajari sehingga sastra memisahkan diri dengan memperdalam isinya. Namun seni dan sastra sangat berkaitan.
 Sastra menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bahasa (kata-kata, gaya bahasa). Pekerjaan manusia dalam kehidupan sehari-hari selalu berkaitan dengan seni maupun sastra. Namun kebanyakan manusia  tidak merasakan bahwa apa yang dia lakukan menggunakan seni dan sastra. Contoh sederhananya, yaitu manusia dalam berbicara menggunakan bahasa masing-masing daerah, bahkan setiap daerah juga mempunyai logat dalam berbicara. Seperti ungkapan sastrawan Indonesia, Sapardi Djoko Damono bahwa kehidupan sastra menampilkan gambaran , dan kehidupan itu sendiri adalah realitas sosial.
Dalam peradaban islam, seni dan sastra sangat mempengaruhi perkembangan dan perluasan daerah-daerah islam. Pada masa bani Abbasiyah, tepatnya pada kepemimpinan Harun Ar Rasyid dan putranya, Al Makmun seni dan sastra mulai berkembang dengan lahirnya seniman dan sastrawan, seperti Badi Al Zaman, Al Tsa’labi, dan Al Hariri. Seni dan sastra pada waktu itu digunakan untuk menyebarkan agama Islam dengan membuat syair, puisi, prosa, bahkan langsung dengan perkataan. Orang yang melihat pada waktu itu merasakan betapa indahnya susunan kata dan makna di setiap lariknya. Kemudian seni dan sastra menjadi kunci dalam dakwah penyebaran agama islam. Dengan berjalannya waktu, orang-orang mulai memperdalam ilmu seni dan sastra, dengan mempelajari kitab-kitab karya para ulama, seperti Balaghoh, Badi’, dan masih banyak lagi. Sehingga dalam memperdalam isi kandungan Al-Qur’an, orang islam lebih mudah mengenali bahasa-bahasa yang digunakan oleh Al-Qur’an karena mereka juga tahu bahwa tingkat kesastraan dalam Al-Qur’an sangatlah tinggi.
Di Indonesia sendiri seni dan sastra juga sangat berpengaruh terhadap penyebaran agama islam, apalagi seni yang digunakan oleh walisongo untuk menyebarkan agama islam di Jawa. Sunan Kalijaga menggunakan wayang dalam penyebarannya, sehingga orang yang melihat merasa tertarik dan menikmati tontonan tersebut. Orang-orang juga tidak merasa terbebani dengan ajaran islam karena seni juga mempunyai fungsi untuk menghibur seseorang dengan ide-ide tertentu. Sunan Kalijaga bukan hanya menggunakan seni dalam menyebarkan dakwahnya, tapi juga menggunakan sastra. Ketika kita mendengarkan dalang yang sedang memainkan wayang dengan kata-kata yang diucapkan oleh sang dalang, kita akan manangkap beberapa kata yang indah dan enak didengar. Itulah peran sastra yang digunakan oleh sunan Kalijaga, sehingga orang-orang pada masa itu pasti banyak yang tertarik dengan ajaran islam. Pastilah walisongo pada saat itu menggunakan peran seni dan sastra, baik seni musik, seni tari, dan seni sastra.
Di zaman milenial ini, seni dan sastra bukan hanya digunakan sebagai dakwah penyebaran islam karena di Indonesia mayoritas islam. Banyak yang membuat karya seni dan sastra bercorak islami bertujuan untuk meningkatkan rasa cinta kepada islam dan juga mengungkapkan bahwa seni dan sastra sebenarnya luas. Karya seni dan sastra dapat berupa novel, puisi, prosa, cerpen, dan film. Ketika Cinta Bertasbih, Ayat-Ayat Cinta, Negeri 5 Menara, 99 Cahaya Langit Eropa, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, dan Hafalan Salat Delisa merupakan beberapa novel yang bercorak islami yang menjadi novel terlaris di Indonesia. Dari semua novel tersebut diimplementasikan dan diaplikasikan menjadi sebuah seni yaitu film. Pembaca akan menilai isi dari sebuah novel itu dan akan mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda, namun mempunyai unsur persamaan dalam hal corak islami. Kita akan mencoba menelaah dari salah satu novel yang bercorak islami dan akan melihat peran seni dan sastra dalam islam. Dalam novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy membahas tentang pernikahan dalam islam, dan bagaimana pernikahan dalam islam ketika laki-laki mencintai perempuan yang berbeda agama, sehingga pembaca mempunyai pandangan mengenai tentang pernikahan dalam islam dan berujung untuk mencari tahu hukum-hukum pernikahan dalam islam. Dari novel dan film tersebut, sangatlah jelas peran seni dan sastra dalam islam, membuat pembaca terus memperdalam kajian ilmu-ilmu islam. Selain itu, pembaca juga lebih mudah mengenal islam lewat sastra. Selain novel, sastra yang beraliran puisi bercorak islami juga sangat banyak, para tokoh seniman dan sastrawan juga menyebar di seluruh Indonesia, diantaranya adalah KH. Musthofa Bisri, Emha Ainun Najib, Acep Zam Zam Noor, Zawawi Imron, dan masih banyak lagi.
Dari keterangan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa peran seni dan sastra dalam islam dari masa ke masa baik dunia maupun Indonesia adalah untuk menyebarkan ajaran Islam, dan cara untuk menggali lebih dalam tentang agama Islam dengan lantaran buku-buku sastra dan berbagai macam seni sehingga seseorang lebih mudah untuk mengenal seni dan sastra. 
 

KHUTBAH

ARTIKEL

KARYA SANTRI

HUKUM

Login

Pengunjung

Kami memiliki 1657 guests dan tidak ada anggota yang online

Login

Go to Top
Template by JoomlaShine